Home / Tangerang / Kutakarang Desa Terpencil Yang Indah Terabaikan di Banten

Kutakarang Desa Terpencil Yang Indah Terabaikan di Banten

Penyebrangan Muara Menuju Desa Kutakarang Yang Tengah Membutuhkan Jembatan, Sabtu (6/2/2021), Foto Yudha Bentengpos.com

BP. BANTEN – (Kab. Pandeglang) Sepanjang enam kilometer lebih jalan dari Binuangeun menuju desa Kutakarang, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang amat disayangkan karena rusak parah untuk dilintasi dengan kendaraan.

Masyarakat setempat mengatakan, kurangnya infrastruktur di wilayah Kutakarang disebabkan karena tidak adanya perhatian dari pemerintah daerah Kabupaten, ataupun Provinsi, untuk memprioritaskan serta meningkatkan mutu pelayanan di daerah tersebut.

Ya, Kutakarang adalah sebuah desa terpencil di Kabupaten Pandeglang yang hingga Februari 2021 ini dihuni sekira 80 Kartu Keluarga, memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa. Dari keindahan pantai pasir putih dengan hamparan laut Samudera Hindia, serta perkebunan.

Saat dikunjungi tim awak media, sebuah desa yang memiliki hasil bumi, pesona alam yang asri, pantai yang bersih itu pun, seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah untuk turut serta menjaga dan melestarikan cagar alam dan situs religi yang terdapat dalam desa terpencil tersebut.

“Memang sudah lama jalan utama masuk dari Binuangeun sampai ke Kutakarang itu hancur, dan tidak ada pembangunan lagi. Warga disini pun kalau mau menjual hasil tani ke pasar Binuangeun itu harus menyewa ojek 100.000 (pulang pergi) dan harus nyeberang dulu pakai perahu di muara. Sedangkan sumber kehidupan masyarakat disini ialah bertani,” kata Among selaku warga setempat, Minggu (07/02/2021).

Tak hanya itu, masyarakat desa Kutakarang pun amat sangat membutuhkan perhatian pemerintah Kabupaten Pandeglang, baik dari segi pendidikan, pelayanan kesehatan, infrastruktur pembangunan, serta armada transportasi umum.

“Karena di Kutakarang ini tidak ada sama sekali sekolah, puskesmas, dan warga juga kalau mau anaknya sekolah dan warga yang mau berobat harus nyebrang muara dan jalan sejauh enam kilometer lebih ke Binuangeun,” ungkapnya.

Oleh karena itu, warga Kutakarang berharap agar desanya menjadi prioritas perhatian dari pemerintah, untuk kemajuan generasi desa Kutakarang kedepannya.

“Kami kalau menjual hasil tani, contohnya pisang, satu tandan dari sini dijual 10 ribu, bawa kepasar Binuangeun, naik ojeknya 100 ribu, untung darimana, mending dimakanin aja,” lanjut Among.

Senada dikatakan Roni, seorang pencari ikan saat dijumpai di Pantai Kutakarang, mengatakan dirinya terpaksa mencari ikan di laut dengan berjalan kaki sekitar satu jam melalui pesisir pantai dari rumahnya yang berada di atas hutan Kutakarang.

“Ya, memang jalannya hancur kalau lewat desa, kalau mau nyari ikan ya setiap hari lewat sini aja (tepi pantai). Satu jam an lah dari rumah,” kata Roni.

Bukan hanya dari infrastruktur yang rusak parah, pelayanan pendidikan sampai kesehatan di desa terpencil itu pun sangat miris sekali. Sebab, desa yang dihuni dari 80 Kartu Keluarga tersebut amat sangat sulit merasakan indahnya belajar, serta imunisasi bagi anak-anak mereka.

“Disini memang gak ada puskesmas, kalau mau lahiran ya paling sama parazi (dukun beranak). Kalau sesar ya paling meski ke Pandeglang, gak tau bisa selamet apa enggak. Kalau sakit ya paling disini aja minta obat ke paranormal, kalau parah banget ya harus di bawa ke Pandeglang, itu juga gak tau bisa ketolong apa enggak,” lanjut wanita yang akrab disapa teteh.

Warga Kutakarang pun berharap, dari sekian banyaknya persoalan yang ada di dalam desa tersebut, pokok utama ialah sarana jalan yang memang sangat butuh perbaikan.

“Saya jadi masyarakat ingin merasakan merdeka, memang merdeka mah merdeka tapi dari hasil kemerdekaan itu kita belum merasakan sama sekali. Mau saya mah jalan dari Kecamatan Cibaliung sampe sini (Kutakarang) dibenerin, kalau jalan bener mah insya allah nyari rezeki juga lancar,” tambah Abah. (Yudh/Bentengpos.com)

About bentengpos.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*